F-Story (Fanny Widadie, S.P., M.Agr) | …"berkarya dan bermanfaat bagi sesama"….

Economic Islamic Conference 2013

Dear fellas,

It is a great pleasure to invite you to the National Conference and Gathering on Islamic Economic Study, which will be held on 26 November,  2013 in Sunan Hotel, Surakarta. This conference is one of the most highly acclaimed meetings in the field of Islamic Economic Development. The objectives are threefold – (i) i) to promote a deeper understanding of the Islamic Economic Role in addressing global financial crisis among students and professionals; (ii) to facilitate a forum for senior professionals to share their views on the Islamic Banking; and (iii) to provide networking opportunities via interaction with the most accomplished finance professionals based upon on Islamic way. More detail about Islamic Economic Conference can be found http://psei.lppm.uns.ac.id/ or this picture – brochure.

We are inviting paper for presentations on the topic of economic, law,management and business

1. Deadline for Abstract: October 5, 2013

2. Abstract Notification: October 12,  2013

3. Deadline of full paper : November 16, 2013

The best paper will be publishing in the Journal Accreditation (DIKTI) INFERENSI STAIN SALATIGA (http://inferensi.stainsalatiga.ac.id/) and the others will be publishing in the Journal of Imanensi fordebi (http://fordebi.or.id/)

Your presence at this conference is important to us. We look forward to seeing you there.

 

 


Back to Top | No Comments

What Pays Your Bills is Money, Not Passion

Apa jadinya kalau passion tidak bias memenuhi kebutuhan hidup? Jika terus menerus mengejar passion, apa artinya harus berpindah pekerjaan, jadi manusia super idealis yang siap hidup susah – dan membuat keluarga juga jadi susah? Apakah harus kompromi dengan passion sendiri supaya bias bayar tagihan setiap bulan? — ini serangkaian pertanyaan dari FB, twitter atau email yang paling sering saya dengar setiap kali bicara soal passion. Gong-nya adalah saat membaca twit dari seorang teman & selebriti twitter yang isinya kurang lebih begini: “Memang terkadang passion tidak cukup membayar tagihan…” walaupun dengan nada becanda saya merasa perlu berkomentar supaya pembahasan passion tidak jadi semakin rancu.

Ini sama sekali bukan complain lho. Jujur saya senang banget semakin banyak telinga yang akrab dengan satu kata yang telah banyak mempengaruhi hidup saya. Saya juga bersyukur semakin banyak organisasi, keluarga dan individu yang membuka diskusi seputar passion dalam keseharian mereka – sebagian bahkan ada menyebut diri sebagai passion coach, passion mentor dll.Sama sekali tidak masalah. Namun saya khawatir ketika passion muncul sekedar sebagai buzzword,tanpa makna yang jelas.Lebih khawatir lagi saat passion sekedar dijadikan alasan untuk berpindah kerja, tidak berpenghasilan, tidak bertanggung jawab dan ujungnya, ketidak berdayaan.

Seriously people, what pays you bill is money, not passion. Passion bukan komoditas sehingga tidak bias dihargakan sebagaimana layaknya barang dagangan. Membayar tagihan bulanan, cicilan kartu kredit, biaya sekolah anak dan alokasi investasi harus, perlu & mutlak menggunakan UANG – sebagai denominator transaksi yang paling diakui hingga saat ini.

Passion without creation is meaningless, nothing! Nah, uang berasal dari kinerja – yang akan sangat keren jika diawali dari passion. Apakah bias dapat uang tanpa passion? Ya, bias saja tapi belum tentu prosesnya mengasyikan dan sudah pasti tidak maksimal. Mempertanyakan bagaimana jika passion tidak bias bayar tagihan= bertanya kenapa tamatan SD tidak menghasilkan uang? Atau, kenapa karyawan baru tidak langsung jadi Presiden Direktur? Atau, kenapa suka politik tapi tidak jadi anggota parlemen atau jadi Presiden? Jawabannya: Semua dan apapun dikolong langit perlu PROSES.
Your passion is already within you – the clues are everywhere in your feelings. Passion bias didefinisikan dengan banyak cara. Definisi yang paling pas buat saya adalah ini: Segala aktivitas yang membuat kita merasa berdaya. Kata kunci pertama adalah “aktivitas”, sehingga tidur tidak termasuk yaaa. Kata kunci kedua adalah “merasa berdaya”, sehingga tidak harus langsung piawai namun prosesnya terasa dimudahkan, diasyikan dan diberdayakan.

If you think your passion does not pay your bill, please ask these questions to yourself: (1) Apakah saya sudah tahu aktivitas yang membuat saya merasa berdaya, mampu, tahan banting dst? (2) Apakah saya sudah menekuni aktivitas tersebut sehingga jadi piawai? (3) Apakah saya sudah menghasilkan kreasi keren (baca: karya keren yang bermanfaat bagi banyak orang) dari aktivitas tersebut? Silahkan dijawab – jika semua jawabannya YA! Maka saya pastikan uang sudah tidak jadi masalah.

Nah, bagi yang masih mempertanyakan (lagi) kenapa harus tahu, paham & peduli passion, bias jadi jawabannya sudah disajikan dalam serangkai kalimat indah karya Jalaludin Rumi sekitar 800 tahun lalu:

“With passion, we pray
With passion, we make love
With passion, we eat & drink & dance & play
Why look like a dead fish in this ocean of God?”

René Suhardono
Public Speaker &Curator of FluxMe
Founder of ImpactFactory, business performance specialist
Cofounder of @CommaID,coworking space

Coleksayadi twitter: @ReneCC
Photo: instagram #SunsetAustraliaby @amazingmoments


Back to Top | No Comments

Pengertian Karir | Karir Bukanlah Sebuah Titik

by 

Pengertian karir itu beragam. Tapi sebagian besar orang memahami karir sebagai sebuah titik dalam kehidupan. Benarkah demikian pengertian karir?

Pengertian karir itu beragam. Sebagian orang mengartikan sebagai perubahan posisi di tempat kerja. Bila posisinya naik maka dibilang karirnya cemerlang, bila posisinya turun dikatakan karirnya suram. Ada pula yang memaknai karir sebagai pekerjaan yang ditangani saat ini. Apa kamu memahami pengertian karir dengan cara seperti itu?

Bila kamu memahami pengertian karir dengan cara seperti itu, kamu pasti kaget bila membaca judul bukunya Rene SuhardonoYour Job is Not Your CareerJleb kan? Iya, aku setuju dengan pendapat Rene. Pekerjaan dan bahkan jabatanmu bukanlah karirmu. Pekerjaan adalah milik perusahaan. Karir adalah milikmu sendiri.

Karir bukan sebuah titik dalam kehidupanmu. Karir adalah garis yang merangkai titik-titik yang kamu torehkan selama kehidupanmu. Karir bukan sebuah keadaan. Karir adalah sebuah proses yang merangkai beragam keadaan sepanjang hidupmu. Sebagaimana pengertian karir yang dikutip di Wikipedia : Career describes an individuals’ journey through learning, work and other aspects of life.

Sebagai sebuah garis, karir merangkai titik kehidupanmu yang tebal maupun yang tipis. Sebagai sebuah garis, karir merangkai seluruh titik kehidupanmu bahkan merangkai titik yang menurut banyak orang tidak ada hubungannya.

Sebagai sebuah proses, karir tidak selalu berisi hal-hal manis dan menggembirakan. Karir juga merangkai hal-hal pahit dan penuh kesulitan dalam hidupmu. Sebagai sebuah proses, karir juga berisi keadaan-keadaan yang tidak kita mengerti saat ini. Seringkali hanya setelah melalui keadaan itu, kamu baru mengerti hubungan beragam keadaan yang membentuk karir kamu.

Ketika hari ini kamu menangani pekerjaan yang memuakkan bukan berarti karirmu memuakkan. Ketika hari ini kamu menangani pekerjaan yang tidak sesuai passion kamu bukan berarti karirmu keliru. Tidak perlu mengutuk pekerjaan yang memuakkan. Tidak perlu menyesali pekerjaan yang tidak sesuai passion.

Pengertian Karir

Misi utamamu dalam pengembangan karir adalah bergerak dan terus bergerak melakukan pencarian titik-titik kehidupan yang beragam. Terus mencoba hal baru, tidak perlu takut. Segera mungkin selagi muda. Secepat mungkin selagi bisa. Titik-titik kehidupan itu bisa berarti pekerjaan baru, tapi juga bisa berarti sebentuk pengetahuan baru, momen perubahan diri, teman-teman baru, karya yang kamu ciptakan atau hobi baru. Percayalah pada suatu hari nanti, titik-titik itu akan terangkai indah menjadi karirmu.

Apa titik kehidupan paling baru yang kamu rasakan atau alami? Kalau kamu tidak malu, boleh ditulis di kolom komentar


Back to Top | No Comments

HCD Connect Grants for Agricultural Development

Batas waktu: 15 Juli 2013
Syarat:
 Project berhubungan dengan pertanian.
Awards:
 $5,000 planning grants and $10,000 implementation grants.

 

DESCRIPTION

The HCD Connect platform and the microgrant program are designed to catalyze new best practices to help ensure that people using human-centered design to tackle poverty-related challenges around the world are receiving direct input on their solutions. The HCD Connect website and funding for these Microgrants is made possible thanks to a grant from the Agricultural Development group at the Bill & Melinda Gates Foundation. For this reason, the second cycle of Microgrants will again focus on projects using human-centered design towards agriculture-related projects.

In light of successes from the first round of Microgrants, this second cycle will be even more method focused. You can find more information in the HCD Toolkit HERE and you may brainstorm which methods will be most applicable to your project!

The methods include various forms of:

  • H: Hear – Determine who to talk to, how to gather stories, and how to document your observations
  • C: Create - Generate opportunities and solutions that are applicable to the whole community
  • D: Deliver – Take your top solutions, make them better, and move them toward implementation

GRANTS

The judging panel will be made up of social sector, agriculture, and design experts well-versed in the power of human-centered design. The judges will award HCD Connect Microgrants in the following two categories:

  • $5,000 Planning Grant: planning grants are for individuals or organizations initiating the human-centered design process as part of a particular project and requiring funding to conduct HCD “hear” or “create” research.
  • $10,000 Implementation Grant: implementation grants are designed for individuals or organizations that have experienced the human-centered design process and need funding to pilot or implement their project solutions.

ELIGIBILITY

The microgrants are available to any country in the world where people are working on projects that meet the following three criteria:

  1. The project must be related to agricultural development.
  2. The project must have drawn from, or be planning to employ, the methods and approaches of human-centered design.
  3. Someone from the project team must create a story on HCD Connect detailing the project or proposed project. In general, grant-making preference will be given to active participants on the HCD Connect platform.

APPLICATION

Applications are due before 15 July 2013 11:59PM PST. Please submit your completed application form AVAILABLE HERE to microgrants@iDEo.org. They will consider the information provided in this application as well as your participation on the HCD Connect platform as part of our selection criteria.

Questions or problems? Please e-mail microgrants@iDEo.org. For more information and to see projects done by previous recipients of the microgrants, see the official website HERE.

Informasi lebih lanjut:

klik disini untuk website penyelenggara.


Back to Top | No Comments

YES! We Can Improve the Food System: BCFN Young Earth Solutions (YES!) Competition

Batas waktu: 1 Juli 2013
Syarat:
 Usia maksimal 30 tahun.
Awards:
 Trip to Milan dan  €1000.

DESCRIPTION

Here’s a winning idea: A program that connects urban youth to food production by engaging them in the cultivation, preservation, cooking, and sale of local food products.

This brainchild belongs to Italian student Frederica Marra, and it won her last year’sBCFN Young Earth Solutions (YES!) competition

The Barilla Center for Food & Nutrition (BCFN) is now seeking equally winning ideas for how to improve the food system for this year’s YES! competition. Ideas should focus on reducing humanity’s environmental footprint, while also guaranteeing health and food accessibility.

BCFN aims to cultivate the next generation of food thought leaders, as well as move humanity toward a future free of hunger, obesity, undernourishment, and food waste. They challenge students and young researchers to conjure up feasible, original, and effective solutions to the predicaments of our food system.

 

ELIGIBILITY

Since this competition is for emerging leaders, only students and young researchers can enter. And you have to be under 30.

 

PRIZES

Finalists will get an all-expenses-paid trip to Milan, Italy to present their ideas at the 5th International Forum on Food and Nutrition in November, as well as the opportunity to show off their ideas on the BCFN YES! website

The brain(s) behind the winning idea will receive €1000 and a chance to participate in a BCFN research project in 2014—meaning, you could help them make some positive change

 

Informasi lebih lanjut:

klik disini untuk guideline lengkap.
klik disini untuk submission.
klik disini untuk website penyelenggara


Back to Top | No Comments

contoh letter of recomendation

Contoh 1

To Whom It May Concern:
As the Dean of Stonewell College, I have had the pleasure of knowing Hannah Smith for the last four years. She has been a tremendous student and an asset to our school. I would like to take this opportunity to recommend Hannah for your graduate program.
I feel confident that she will continue to succeed in her studies. Hannah is a dedicated student and thus far her grades have been exemplary. In class, she has proven to be a take-charge person who is able to successfully develop plans and implement them.
Hannah has also assisted us in our admissions office. She has successfully demonstrated leadership ability by counseling
new and prospective students. Her advice has been a great help to
these student
s, many of whom have taken time to share their comments with me regarding her pleasant and encouraging attitude. It is for these reasons that I offer high recommendations for Hannah without reservation. Her drive and abilities will truly be an asset to your establishment. If you have any questions regarding this recommendation, please do not hesitate to contact me.

Sincerely,
Roger Fleming
Dean of Stonewell College

Contoh 2

To Whom It May Concern:
This letter is to serve as my formal recommendation for Andrew Fuller. Andrew has been my direct assistant for several years. He has been interested in obtaining an MBA degree for some time now and I feel that he would be an excellent candidate for your esteemed program.
During his time here, Andrew has consistently demonstrated a strong work ethic and a dedication to success. His efforts have produced high quality results time and time again. Last year, Andrew developed and successfully implemented a plan to streamline our production department. The plan was a major undertaking, requiring a great deal of thought and effort on Andrew’s behalf.
Though Andrew is my assistant, he is also in an unofficial leadership role. Many of his co-workers seek his advice and support. Andrew is always there for them and is quite comfortable in the role. I feel his budding leadership abilities will become even more effective in a business school setting. For these reasons, I highly recommend Andrew Fuller as a candidate for your MBA program. If you have any questions regarding Andrew or this recommendation, please contact me.

Sincerely,
John Thomas Operations Manager Tri-State Directories

Contoh 3

To Whom It May Concern:
I am proud to recommend a beloved student, Kaya Stone, for your fellowship program. I was asked to write as one who has functioned in the capacity of an employer of Kaya, but I would first like to say a few words about him as a student. Kaya is a highly intelligent, perceptive young man. He came to our institution committed to capitalizing on the opportunity of a third year of study in Israel, and he left with the satisfaction of having accomplished that goal. Kaya grew in learning, in character, in depth of understanding. He seeks truth in each and every area of his life, whether in learning, discussing philosophy, or relating to his fellow students and his teachers. Because of his positive disposition, his reflective way of operating, and all of the character traits that make him so special, Kaya’ s questions never go unanswered, and his
searches always bring him to exciting new discoveries. As a student, Kaya is outstanding. As an educator, I have watched him grow, seen his talents and abilities not only in the classroom but outside its walls, when interacting with all types of people, as well.
During his time at our institution, Kaya, who as I’ m sure you know is an excellent writer and publicist, also has done a good deal of work for the yeshiva. This has included the text for many public relations brochures and packets, letters to parents, potential donors, and alumni, and essentially any correspondence which I have requested that he compose. The feedback is always overwhelmingly positive, and he has done so much in that way for our yeshiva. Even today, while he studies elsewhere, he continues to do a great deal of this work for our institution, in addition to the recruiting and other services he performs for the yeshiva.
Always, in his work, Kaya is consistent, dedicated and passionate, enthusiastic, cheerful, and a pleasure to work with. He has incredible creative energies and a refreshing idealism tempered only enough to accomplish what needs to be done. I highly recommend him for any position of work, leadership, education, or any other capacity in which he can spread his excitement and share his talents with others. At our institution, we are expecting big things from Kaya in the way of educational and communal leadership in the years to come. And knowing Kaya, he will not disappoint, and probably will exceed our expectations.
Thank you once again for the opportunity to recommend such a special and impressive young man.

Sincerely Yours,
Steven Rudenstein
Dean, Yeshiva Lorentzen Chainani


Back to Top | No Comments

About Bahasa

Indonesia Berbangga Diri
Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap bahasa lain,
School of Oriental and African Studies (SOAS) London, menetapkan bahasa Jawa sebagai bahasa wajib dipelajari mahasiswanya.
… … …
Karena berdasarkan Summer Institute for Linguistics (SIL) Ethnologue Survey 2011, penutur bahasa Jawa di dunia ternyata berjumlah 77,75 juta orang, lebih banyak daripada penutur bahasa Kore……a yang sebanyak 76,5 juta orang maupun bahasa Perancis yang hanya… sebanyak 76 juta orang. … Kemudian, berdasarkan penelitian, penggunaan bahasa Jawa lebih efektif dibandingkan bahasa Inggris sekalipun, setidaknya dalam 29 contoh berikut:

1. walk slowly on the edge (side) of the road = mlipir.
2. fall backward and then hit own head = nggeblak.
3. got hit by a truck that is moving backward = kunduran trek.
4. talk too much about unimportant thing = cangkeman.
5. smearing one’s body with hot ointment or liquid and then massaging it = mblonyo. 6. going without notice/permission = mlethas.
7. taking the longer way to get to the destination = ngalang
8. riding an old bicycle = ngonthel.
9. falling/ tripping forward (and may hit own face = kejlungup.
10. side effect after circumcision = gendhelen.
11. hot pyroclastic cloud rolling down a volcano = wedhus gembel.
12. a small, sharp thing embedded inside one’s skin = susuben/ ketlusupen.
13. spending a lot of time doing nothing =mbathang.
14. feeling uncomfortable because there is something that smells bad = kambonan.
15. things getting out from a container accidentally because of gravity = mbrojol.
16. get hit by thing collapsing on top of one’s head/ body = kambrukan
17. drinking straight from the bottle without using glass, where whole bottle tip gets into the mouth = ngokop.
18. cannot open eyes because something is shining very bright = blereng.
29. cannot hold bowel movement = ngebrok.
20. something coming out from one’s rear end little by little = keceret/ kecirit.
21. hanging on tightly to something in order to be inert = gondhelan.
22. falling/ tripping accidentally because of a hole = kejeglong.
23. doing something without thinking about the consequences = cenanangan.
24. being overly active carelessly = pecicilan.
25. feeling unwell because of cold temperature = katisen.
26. making too much noise, disturbing other people= mbribeni / mbrebeki.
27. tripping over accidentally caused by wires, cloths, gowns etc. = kesrimpet.
28. being alone (or with a companion) in the corner of a place/ room doing something suspicious= mojok.
29. pretend to be homeless, no money and never take shower=nggembel

I just wanna share my laughter to u all, guys :D


Back to Top | No Comments

Aku Terpaksa Menikahinya… (Kisah Inspirasi)

Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.


Back to Top | No Comments

International Conference in Padjajaran University

This paper have published in Proceeding International Conference on Small-Scale Producer Agency in the Globalised Market – University of Padjajaran and CAPAS (Center for Agrifood Policy and Agribusiness Studies) – Bandung, 16 February 2012

 

 RICE MARKET INTEGRATION AND POLICY SIMULATION ANALYSIS 

TO ACHIEVE FOOD SECURITY IN GLOBALISED MARKET

By:

Fanny Widadie

Agriculture Faculty  Agribusiness – Socio Economic Department

University of  Sebelas Maret Surakarta

 e-mail: fanny@uns.ac.id

The government has published rice policies which are production, distribution, import and price control. All the policies are aimed to achieve food security. Now, Indonesia have the problem to rice development such as high dependence of rice consumption (139 kg/kap/year), global warming, degradation of area productivity, field conversion and decline of rice source content. The obstacle challenge from outside is trade liberalization (GATT/WTO agreement that will be deleted import rate) that will make integration between domestic rice market and world rice market in globalization. Because rise is mainly foods that have strategic and important value to increase food security, so this research will analysis rice economic phenomena with making of rice economic model that are include supply, demand, rice price and market integration also policy simulation to achieve rice development in globalised market.

Data analysis is using inferential with econometric approach. First step are used statistic model test (stationer and autocorrelation). Market integration analyses are use cointegration-test which are Johansen-Juselius (JJ) test, Engel-Granger approach and Error Correction Model (ECM). To identify the effect of government policy to rice price fluctuation are used simulations with history data for scenario of areal increase policy 10% and 20%, technology increase 10% and 20%, fertilize price increase 10% and 20% and rate of exchange increase 10% and 20%.

Research result shows that (1) there are integration between domestic rice prices with world rice price. It was showed from cointegration-Johanses test r > 1. The result of Error Correction Model (ECM) was explained that the level of integration is weak; the world price is getting low effect toward domestic price fluctuation in long and short time. (2) Factors those influencing rice productions are harvest area and technology level. Rice imports are influenced significantly by production and rice demand. Demands of rice are influenced by amount of people and income level. And the last, price rice is influenced by rate of exchange and price rice of a year before. (3) The result of government policy effect toward rice price fluctuation in domestic there are: (a) harvest-are increase policy as 10% and 20% will make decrease rice price amount of 0.149% and 0.451%. (b) Technology increase policy as 10% and 20% will make increase rice price amount of 0.136% and 0.274%. (c) Fertilize increase policy as 10% and 20% will make increase rice price amount of 0.0107% and 0.0249%. (d). Decrease rate of exchange policy as 10% and 20% will make increase price rice amount of 2.5517% and 4.9754%.

Suggestion of this research is the governments have to make the policy of rice improvement to face globalised market. The policies to increase rice production are use harvest-area and productivity of rice improvement. Besides it, diversification of food consumption policy are purposed to decrease rice demand. The government have to increase food technology no rice. The policy of rice price is use optimal supply sector, which are increasing of harvest-area, technology, fertilize subsidy and monetary stability-rate of exchange to dollar.

Key word: rice, market integration, policy, simulation, food security 

Full Paper Download: Proceeding-International Conference


Back to Top | No Comments

Indofood Riset Nugraha 2012

 

Peluang dana penelitian skripsi S-1 melalui program ” INDOFOOD RISET NUGRAHA”. Tema untuk Tahun 2012 adalah: ”MENUJU PENGANEKARAGAMAN PANGAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL MELALUI PENGEMBANGAN TEPUNG PATI”.

CAKUPAN PENELITIAN :

  1. Bidang Teknologi Pangan dan Gizi Masyarakat
  2. Bidang Sosial Ekonomi dan Budaya
  3. Bidang Budidaya Pertanian
  4. Bidang Peternakan

FOKUS PENELITIAN :

 

  1. Gandum/Terigu (triticum Sp)
  2. Jagung (Zea Mays)
  3. Ubi Jalar (Ipomoea Sp.)
  4. Pisang (Musa Sp.)
  5. Singkong (Manihot Sp.)
  6. Kelapa Sawit (Elaeis Sp.)
  7. Garut (Marantha Sp.) &  ganyong (Cana Edulis Kerr)
  8. Kentang (Solanum Sp.)
  9. Kedelai (Glycine SP)
  10. Susu (milk)

 

PESERTA :

Mahasiswa S1 Perorangan ( Dalam rangka Tugas akhir/Skripsi)

BATAS WAKTU :

Batas Akhir Penerimaan Proposal tanggal 16 April 2012 (cap pos)

PERSYARATAN :

  1. Proposal yang di ajukan harus dalam rangka menyelesaikan tugas akhir/Skripsi dan melampirkan Transkrip Nilai terakhir
  2. Jangka waktu penelitian paling lama 1 Tahun
  3. Penelitian dilakukan dalam Wilayah Republik Indonesia.
  4. Menyertakan Riwayat hidup lengkap peneliti dan Dosen Pembimbing yaitu : Nama, NPM/NIM, Jenis Kelamin, Alamat Lengkap, No.Telp/Hp, fax dan  email.
  5. Setiap Proposal disertai Surat Keterangan dari PD 3 dan PR 3

SEKRETARIAT :

INDOFOOD RISET NUGRAHA

Jl.Raya Cilincing No.1, Tanjung Priok, Jakarta 14110,Gedung Kunci Biru Lantai1

TELP                : (021) 4390 0170-74,
FAX                  : (021) 4392 0096

Online             : Indofood risetnugraha@indofood.co.id

 

Contact Person :

  1.  Terry   : (terry.kumokong@indofood.co.id)
  2. Reni     : reni.dasmaniar@bogasariflour.com)
  3. Louis    : Louis.djangun@bogasariflour.com)

Informasi lebih lanjut www.indofood.co.id

SELAMAT BERJUANG :)


Back to Top | No Comments